Sabtu, 19 Maret 2011

REALITAS SEJARAH DALAM NOVEL GEMA SEBUAH HATI KARYA MARGA T

1.1              Latar Belakang Masalah
·                     Tentang Marga T
Marga Tjoa (lahir di Jakarta, 27 Januari 1943; umur 67 tahun), yang lebih dikenal dengan nama Marga T., adalah salah seorang pengarang Indonesia yang paling produktif. Namanya mulai dikenal pada tahun 1971 lewat cerita bersambungnya, Karmila yang kemudian dibukukan dan difilmkan.
Sejak kecil Marga telah banyak menulis. Karangan-karangannya mula-mula dimuat di majalah sekolahnya. Pada usia 21 tahun, ia menghasilkan cerita pendeknya yang pertama, Kamar 27, yang kemudian disusul oleh bukunya yang pertama, Rumahku adalah Istanaku, sebuah cerita anak-anak, yang diterbitkan pada 1969.
Sebagai penulis, Marga adalah seorang pekerja keras. Ia dapat menghabiskan waktu empat hingga lima jam sehari dalam mengarang. Kedisiplinannya juga tampak dari kegiatannya membaca apa saja. "Masyarakat berhak memilih bacaan yang disukainya, tapi penulis tidak. Ia harus membaca tulisan siapa pun," begitu prinsip Marga. Karena itu ia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli novel.
Novelnya yang paling mutakhir, "Sekuntum Nozomi", buku ketiga, yang terbit pada 2004, mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 yang menelan banyak korban khususnya di kalangan kaum perempuan keturunan Tionghoa. Marga adalah seorang dokter lulusan Universitas Trisakti, Jakarta. Karena itulah dalam banyak novelnya Marga memperlihatkan pengenalannya yang cukup dalam terhadap dunia medis.
·                     Tentang Novel Popular
Dalam karya sastra Indonesia, novel berdasarkan karakternya dibedakan menjadi dua, yaitu novel serius dan novel popular. novel serius dinilai memiliki unsur sastra yang kompleks dan lebih berkarakter. Sedangkan novel yang dikatakan popular adalah, novel yang diminati banyak orang saat pada zamannya dan dianggap sebagai kebudayaan bersama.

Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak. Ada novel populer yang bagus, ada pula yang buruk. Meskipun demikian, menurut para pakar kebudayaan populer (popular culture), novel populer dan semua karya kebudayaan populer, berangkat dari niat komersial. Tujuan utamanya adalah menghasilkan sesuatu yang bersifat materi. Mengingat tujuan utamanya komersial, maka kar-ya-karya populer ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat. Guna mencapai sasaran itu, unsur hiburan menduduki tempat yang sangat penting.

Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan.

a p 9 J bukan kemewahan. Kemajuan adalah kesejahteraan yang lebih merata. Apa yang tidak berguna utnuk golongan terbnyak adalah pemborosan. Prioritas tidak perlu diberikan. ( 1975: 24 )
Kutipan di atas jelas-jelas mengisyaratkan bahwa pemerintah pada saat itu boros dan mengesankan kemewahan iu lebih penting dari pada kesejahteraan masyarakatnya. Di samping itu pinjaman modal asing secara besar- besaran bisa menjadikan negara kita berhutang banyak kepada negara asing, dan kini kita telah merasakan getah hutang yang besar.
Pada zaman itu pula hak bersuara ( berpendapat ) itu tidak diperbolehkan padahal mereka sudah menganut faham demokrasi sama seperti yang terjadi pada saat Presiden Soeharto sedang berkuasa . Seperti pada kutipan di bawah ini :
Kol Srenggi : Sebagai menteri kemanan saya akan segera mengumumkan pernyatan bahwa mengkritik pembangunan adalah sabotase, oleh karena itu subversip. ( 1975 : 25 )
Kol Srenggi : Untuk bersuara harus diingat salurannya ! bukankah ini aturan namanya. ( 1975 : 25)
Kol Srenggi : Negeri ini punya  dewan Perwakilan Rakyat. Inilah saksi hidup untuk demokrasi yang kita tegakkan ! (1975: 26 )

            Ada juga sindiran tentang Repelita yang dalam drama ini disinggung rencana pembangunan empat tahun yang disana diceritakan bahwa pada saat pembangunan terjadi tidak boleh ada satu orang pun yang menggaggunya. Seperti pada kutipan di bawah ini :
Kol Srenggi : Untuk mengamankan jalannya pembangunan kita harus membuat undang-undang yang menyatakan bahwa menjelng parlemen mengesahkan rencana pembangunan empat tahun . Tidak boleh ada suara –suara negatip yang berusaha mempengaruhi jalannya persidangan. ( 1975: 32)
Ada yang menggelitik dari drama ini ialah ketika Negeri Astinam ini mempunyai perdana menteri dan parlemen. Sama halnya seperti negara indonesia pada saat itu yang katanya Negara Republik akan tetapi di dalamnya terdapat perdana menteri dan parlemen yang seharusnya hanya ada di Negara Kerajaan seperti Inggris.  Seperti Kutipan di bawah ini :
Dalang : Negeri Astinam ini diperintah oleh seorang ratu. Ia memerintah didampingi oleh perdana menteri dan kabinetnya. Di samping itu, kerajaan ini juga punya parlemen dan undang-undang dasar. Maunya, kerajaan ini bersifat demokratis.Pengkajian Novel

Dalam kekalutan menjelang perebutan kekuasaan, Monik dengan teman-temannya di Fakultas Kedokteran Res Publica ikut pula merasakan tekanan serta ketegangan di Kampus, yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh golongan mahasiswa yang condong ke kiri.

Dalam gejolak masa tersebut, Monik masih harus menghadapi gejolak dirinya sendiri. Dia harus menetapkan siapa yang akan dipilihnya. Martin atau Steve.Steve yang pandai bergaul ternyata lebih menyita hatinya dan dia berusaha tetap setia di tengah banyak godaan. Namun, suatu saat dia melihat kecurangan Steve. Hatinya amat kecewa.

Monik menyadari kini siapa sebenarnya yang selama itu dicintainya. Namun sudah terlambat! Martin sudah pergi. Dan Monik ditinggalkan untuk menyesali kebodohan serta kebutaannya.Monik kehilangan jiwa buat selamanya. Hatinya seakan bergema sepanjang masa.

Marga T dianggap sebagai salah seorang penulis terbaik untuk jenis cerita hiburan sehat. Bahasanya sederhana dan lincah. Novel popular memang identik dengan percintaan. Namun, adegan-adegan asmara yang diungkapkannya tak tergelincir menjadi cengeng dan murahan. Bahkan sampai kepada pelukisan hubungan biologis pria-wanita, ia berhasil menyuguhkan cara yang tak membuat pembaca jijik atau bergidik. Berbeda dengan novel lain yang terkadang menyuguhkan kisah cinta yang bisa dibilang terlalu vulgar.

Novelnya sebagian besar (bahkan mungkin semua) berkisah tentang wanita, perjuangan wanita dan sebagian besar berhubungan dengan dunia dokter, hal ini sedikit banyak disebabkan oleh profesinya sebagai dokter. Satu hal yang menarik adalah cerita yang dibuat berhubungan dengan dunia wanita tetapi menarik, tidak cengeng dan beberapa malah cukup menjadi inspirasi. Sehingga tokoh wanita tidak selalu digambarkan dengan tokoh yang lemah. Tokoh wanita lebih terlihat kuat sehingga bisa menginspirasi pembacanya.
           
Bahasanya dapat dimengerti, konflik yang dibahas pun menarik dan bukan novel roman yang cengeng atau fokus terhadap hubungan biologis wanita-pria. Hal lain yang menarik dari novel Marga T adalah karena latar belakang waktunya serta peristiwa-peristiwa sejarah yang dia selipkan. Hal tersebut sangat mendukung pengertian bahwa karsa sastra adalah gambaran pada zamannya.

Novel ini lebih banyak mengandung sejarah. Pemeran utamanya adalah Monik, seorang perempuan Tionghoa yang berkuliah di Fak. Kedokteran Res Publica (dahulu bernama BAPERKI) yang sekarang bernama Universitas Trisakti. Sedikit banyak, dapat diketahui sejarah tentang Universitas Trisakti dan peristiwa lainnya yang berhubungan dengannya. Sepertinya, cerita mengenai Trisakti ini bukan sesuatu yang fiktif karena dijelaskan sangat mendetail dan jelas.

Dalam novel diungkapkan bahwa pada zaman itu, ketika inaugurasi, setelah perpeloncoan, dansa-dansa dilarang. Dansa mereka akan jadi dansa yang terakhir. Dalam pergaulan sesama mahasiswa pun, kelas mereka terbagi menjadi dua, yaitu kelompok proletariat dan kelompok borjuis. Mereka pun terbagi dalam dua klik, yaitu klik merah dan tidak merah.

Novel ini pun menggambarkan latar kota Jakarta pada masa itu. Seperti yang tampak dalam kutipan,
“ Di sepanjang jalan Thamrin bermunculan poster-poster raksasa anti-imperialis segala imperialis. Rakyat sedunia bangkit bersatu. Kekuatan baru akan muncul. Dunia baru, makmur, murah sandang pangan. Hari depan gemilang. Asian Games dinyatakan tidak lagi mencerminkan isi rakyat Asia. Maka harus dibentuk game baru, dari the new emerging forces. Semua tampak cemerlang.
Di perbatasan kota dinyatakan: Kota ini bebas buta huruf. Tapi di kampung-kampung becek, masih ada saja nenek-nenek atau kakek-kakek yang lebih suka tidur daripada pergi kursus PBH malam ke tempat lurah atau hansip. Tidak apalah, toh umur di atas enam puluh umumnya sudah tidak lagi masuk hitungan dalam Negara di mana rakyat yang tidak berproduksi, tidak makan. Dari rakyat untuk rakyat, komisinya buat tambah koleksi isteri pemimpin. “

Dari kutipan di atas juga dapat dilihat bahwa novel ini menuju ke arah satire, menggunakan kata-kata yang secara tidak langsung menyindir suasana atau situasi apa yang sedang terjadi pada saat itu.  Bisaanya digunakan untuk menyindir pemerintahan pada saat itu.

Novel ini sangat diwarnai oleh pengalaman pribadi pengarangnya. Mungkin karena itu pula ikatan emosinya sangat kental. Sejarah pergantian rejim bangsa ini yang berlumur darah dilihat dari kacamata seorang korban: keturunan Cina yang tidak diterima di golongan apapun. Partisan berarti selamat, dan netralitas menjadi musuh diri sendiri. Golongan yang menang menjadi pahlawan, tapi pahlawan kemudian menjelma jadi perampok. Gema Sebuah Hati bukan sekedar buku pop, tapi kilasan balik suatu masa kelabu, yang bisa aplikatif pada tahun berapapun.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar